Bagi
Bayu, desa merupakan salah satu fondasi penting dalam
mewujudkan Indonesia Emas 2045. Ia percaya bahwa jika setiap desa mampu
memberikan lingkungan yang baik bagi masyarakatnya, terutama dalam bidang
pendidikan, maka akan semakin banyak generasi muda yang memiliki kesempatan
untuk berkembang dan berkontribusi bagi bangsa.
Bersama rekannya, Teguh Budi Santoso yang diproyeksikan
sebagai sekretarisnya, Bayu membawa sejumlah gagasan yang berfokus pada
pendidikan dan akses masyarakat terhadap pengetahuan.
Salah satu perhatian utama mereka adalah peningkatan
fasilitas pendidikan di Desa Perupuk. Mereka menilai bahwa masih banyak talenta
muda Indonesia yang berpotensi menjadi generasi penerus bangsa, tetapi harus
mengubur impiannya karena keterbatasan akses terhadap pendidikan yang layak.
“Sedih, jujur, ketika melihat banyak sekali calon-calon
pemimpin negara kita di masa depan yang akhirnya meninggalkan impiannya karena
kurangnya akses yang layak ke dalam pendidikan,” ujar Bayu.
Tidak hanya fasilitas pendidikan, Bayu juga menyoroti akses
menuju sekolah. Menurutnya, perjalanan menuju tempat pendidikan seharusnya
tidak menjadi hambatan bagi anak-anak untuk mendapatkan hak mereka atas
pendidikan.
Ia ingin memastikan bahwa akses menuju sekolah dapat
diperbaiki sehingga setiap anak dapat merasakan bahwa lingkungan dan pemerintah
di sekitarnya peduli terhadap pendidikan mereka.
“Kalau untuk pergi ke sekolah saja sulit, bagaimana
anak-anak bisa merasa bahwa pendidikan itu merupakan sesuatu yang diperjuangkan
bersama?” menjadi salah satu gagasan yang ingin ia dorong melalui program
tersebut.
Perpustakaan Gratis untuk Masyarakat
Selain fokus pada fasilitas dan akses pendidikan, Teguh Budi
Santoso juga mengusulkan pembangunan perpustakaan gratis yang dapat diakses
oleh seluruh masyarakat Desa Perupuk.
Menurut Teguh, perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan
buku, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan
pengetahuan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Ia bahkan mengusulkan konsep perpustakaan yang lebih
terkurasi, dengan koleksi buku yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat
desa. Mulai dari pengolahan sumber daya alam, pemberdayaan masyarakat,
keterampilan, hingga buku-buku pengetahuan umum.
“Kalau menurut saya, perpustakaan sangat penting untuk Desa
Perupuk. Saya ingin setiap warga dapat mengakses pengetahuan secara gratis.
Kami juga akan mengisi perpustakaan dengan buku-buku yang berkaitan dengan
kehidupan warga, seperti buku tentang pengolahan sumber daya alam, pemberdayaan
masyarakat, serta berbagai pengetahuan umum lainnya yang dapat diakses secara
gratis,” ungkap Teguh.
Gagasan tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan anak muda
dalam pembangunan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Pendidikan, akses jalan menuju sekolah, dan perpustakaan mungkin terlihat
sederhana, tetapi dari hal-hal tersebutlah kualitas sumber daya manusia dapat
dibangun secara perlahan.
Pencalonan Bayu dan gagasan yang dibawanya juga menjadi
gambaran bahwa generasi muda tidak hanya ingin menjadi penonton dalam proses
pembangunan. Mereka mulai berani mengambil peran dan membawa perspektif baru ke
lingkungan pemerintahan paling dekat dengan masyarakat: desa.
Pada akhirnya, Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang
bagaimana Indonesia terlihat 20 tahun mendatang, tetapi tentang apa yang kita
mulai hari ini. Dan mungkin, perubahan besar itu tidak selalu dimulai dari
gedung-gedung tinggi di ibu kota—bisa jadi, ia justru dimulai dari sebuah desa
kecil bernama Perupuk.

